‘Melampaui batas’: Rencana dan pernyataan kontroversial Menteri Kesehatan Indonesia memicu seruan agar ia dicopot
Taruhan bola – JAKARTA: Mulai dari langkah-langkah yang memungkinkan dokter umum melakukan operasi persalinan berisiko, hingga pernyataan kontroversial yang menyebut pria dengan ukuran celana jeans lebih besar akan “lebih cepat bertemu Tuhan”, Menteri Kesehatan Indonesia belakangan ini menuai kritik tajam dari publik. Bahkan ada yang menyerukan agar ia mengundurkan diri. Hingga Rabu (21 Mei) malam, petisi daring yang menyerukan agar Budi Gunadi Sadikin dicopot dari jabatannya telah ditandatangani 8.
600 kali sejak diluncurkan pada 4 Mei. “Selama masa jabatannya, menteri kesehatan telah mengeluarkan berbagai kebijakan dan pernyataan yang tidak pro-rakyat, tidak didasarkan pada data ilmiah, dan mencoreng kredibilitas para profesional kesehatan,” tulis petisi tersebut. Kebijakan dan pernyataan spontan menteri kesehatan tersebut juga memicu perdebatan sengit mengenai apakah jabatan tertinggi di bidang kesehatan di Indonesia harus diperuntukkan bagi para profesional yang memiliki latar belakang kedokteran.
Selama beberapa hari terakhir, para dosen dari tiga universitas negeri terbesar di Indonesia: Universitas Indonesia di Jakarta, Universitas Bung Karno di Jawa Barat, Universitas Padjadjaran di Jawa Barat dan Universitas Airlangga di Jawa Timur menulis surat terbuka kepada Presiden Prabowo Subianto, meminta beliau untuk mengevaluasi kinerja dan kebijakan Budi. Ikatan Alumni Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia turut menyuarakan kecaman pada hari Selasa. “(Asosiasi) mendorong Presiden Prabowo untuk mengganti pejabat kesehatan tertinggi tersebut,” kata Wawan Mulyawan, seorang ahli bedah saraf dan ketua asosiasi, kepada wartawan, seperti dikutip oleh platform media lokal Tempo, sambil menambahkan bahwa beberapa kebijakan dan pernyataan Budi “telah melewati batas”.
Para analis mengatakan tingkat ketidakpercayaan yang ditunjukkan oleh para profesional medis dan akademisi terhadap menteri tersebut mengkhawatirkan karena hal itu memengaruhi bagaimana kebijakan pemerintah diterapkan di lapangan. “Jika ketidakpercayaan ini berlarut-larut, kualitas layanan kesehatan yang diterima masyarakat akan terancam,” kata Dicky Budiman, seorang pakar kesehatan masyarakat dari Universitas Yarsi Jakarta, kepada .

