Purbaya Mengatakan Bank Dunia Salah Menafsirkan Prospek Pertumbuhan Indonesia
Liga335 daftar – TEMPO.CO, Jakarta – Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa menanggapi keputusan Bank Dunia yang menurunkan proyeksi pertumbuhan ekonomi Indonesia tahun 2026 dari 4,8 persen menjadi 4,7 persen, dengan menyatakan bahwa penilaian lembaga tersebut tidak sepenuhnya mencerminkan strategi pemerintah dalam mendukung perekonomian.
Berbicara di Jakarta pada hari Kamis, Purbaya mengatakan perhitungan Bank Dunia mengenai prospek ekonomi Indonesia “kurang tepat,” dan menekankan bahwa pemerintah berfokus untuk memastikan kebijakan dan kondisi keuangan tetap mendukung pertumbuhan.
“Yang penting bagi kami adalah memastikan bahwa program-program yang benar-benar bermanfaat terus berjalan, bahwa sistem keuangan siap mendukung pertumbuhan ekonomi, dan bahwa iklim investasi membaik,” kata Purbaya.
Ia menyatakan keyakinannya bahwa pertumbuhan Indonesia akan kembali menguat seiring dengan upaya pemerintah yang terus berlanjut untuk menjaga stabilitas dan mendorong investasi. Ia juga menyarankan bahwa penurunan proyeksi Bank Dunia tersebut sebagian besar dipengaruhi oleh harga minyak global yang melonjak, yang menurutnya bisa berubah jika harga kembali normal.
“Saya kira dengan upaya seperti itu, pertumbuhan akan pulih. Saya yakin Bank Dunia membuat perhitungan itu karena dampak harga minyak yang tinggi. Jika harga minyak kembali ke level normal dalam sebulan ke depan, Bank Dunia pasti akan merevisi perkiraannya lagi,” katanya.
Purbaya, yang juga menjabat sebagai bendahara negara, menambahkan bahwa Bank Dunia mungkin belum sepenuhnya memperhitungkan strategi ekonomi yang dijalankan oleh pemerintahan Presiden Prabowo Subianto.
“Mungkin Bank Dunia belum mengetahui langkah-langkah rahasia saya, atau langkah-langkah rahasia Pak Prabowo,” katanya, merujuk secara bercanda pada strategi ekonomi pemerintah.
Dalam edisi April 2026 Laporan Ekonomi Asia Timur dan Pasifik, Bank Dunia menurunkan proyeksi pertumbuhan Indonesia tahun 2026 menjadi 4,7 persen, turun dari perkiraan 4,8 persen yang diterbitkan pada Oktober 2025.
Laporan tersebut menyebutkan bahwa prospek yang lebih lemah didorong oleh tekanan eksternal, terutama kenaikan Kenaikan harga minyak global dan meningkatnya kehati-hatian investor di pasar keuangan internasional, yang sering digambarkan sebagai sentimen “risk-off”.
Namun, Bank Dunia mencatat bahwa sebagian tekanan tersebut dapat diredam oleh pendapatan dari komoditas dan inisiatif investasi yang dipimpin pemerintah.
Bank Dunia juga menyatakan bahwa Indonesia masih memiliki bantalan ekonomi, termasuk ekspor komoditas, yang dapat membantu meredam dampak jangka pendek dari kenaikan biaya energi.

