Monyet-monyet yang pernah ditangkap dan diselamatkan kembali dilepasliarkan ke alam liar di Indonesia

Monyet-monyet yang pernah ditangkap dan diselamatkan kembali dilepasliarkan ke alam liar di Indonesia

Monyet-monyet yang pernah ditangkap dan diselamatkan kembali dilepasliarkan ke alam liar di Indonesia

Liga335 – Rekaman terbaru yang dibagikan oleh Jakarta Aid Network (JAAN) mendokumentasikan momen mengharukan saat dua mantan “monyet penari”, Jono dan Unyil, kembali ke alam liar. Monyet ekor panjang ini termasuk di antara 46 ekor monyet yang diselamatkan dan dilepaskan pada tanggal 21 April ke sebuah pulau lindung di Indonesia, menandai berakhirnya penderitaan bertahun-tahun selama masa penangkaran. Setelah sebelumnya dipaksa untuk tampil di hadapan wisatawan dalam perdagangan monyet penari di Indonesia, hewan-hewan ini kini memulai kehidupan baru di habitat alami yang aman.

Langkah-langkah pertama menuju kebebasan Rekaman tersebut mendokumentasikan kepribadian yang kontras dari kedua kera muda ini saat mereka meninggalkan kandang pengangkut mereka. Jono, yang berusia tujuh tahun, tidak membuang waktu. Begitu pintu terbuka, ia langsung menghilang ke dalam hutan lebat, dengan cepat menjauhkan diri dari kandang.

Unyil, yang baru berusia tiga tahun, mengambil rute yang lebih hati-hati. Ia berhenti sejenak, mengamati sekelilingnya, dan dengan hati-hati berjalan menuju pepohonan, sesaat menoleh ke belakang sebelum melanjutkan langkahnya. Dalam beberapa jam berikutnya, keduanya mulai menyesuaikan diri.

Jono wa Mereka kemudian terlihat menghabiskan waktu bersama kera-kera lain, sementara Unyil terekam sedang mencari makan, sambil memegang buah yang ia temukan sendiri. Persiapan untuk hidup di alam liar Lokasi pelepasan terletak sekitar 38 kilometer di lepas pantai Jawa, dan telah ditetapkan sebagai habitat lindung melalui kerja sama dengan Pemerintah Indonesia. Tanpa kehadiran manusia secara permanen dan dengan ekosistem hutan yang beragam, lokasi ini menjadi tempat berlindung yang langka dan aman.

Sebelum dilepasliarkan sepenuhnya, kera-kera tersebut menghabiskan waktu di kandang hutan yang aman, yang dirancang untuk membantu mereka beradaptasi secara bertahap. Ruang transisi ini memungkinkan mereka untuk terbiasa dengan lingkungan alam sambil tetap berada di bawah pengawasan. Para peneliti dari JAAN terus memantau perkembangan mereka, memastikan hewan-hewan tersebut dapat mencari makan secara mandiri dan beradaptasi dengan lingkungan barunya.

Pemantauan akan terus dilakukan seiring mereka memperluas wilayah jelajahnya di seluruh pulau. Perjalanan menuju lokasi pelepasan merupakan tantangan logistik yang signifikan. Tim penyelamat mengangkut hewan-hewan tersebut dengan perahu dan berjalan kaki, menelusuri Mereka berjalan sejauh empat kilometer melintasi hutan lebat, masing-masing memikul sebuah peti di punggungnya.

Anda bisa membuat perbedaan bagi hewan-hewan yang rentan. Donasi sekarang. Saat Anda berdonasi, Anda akan bergabung dengan kelompok pendukung yang penuh semangat dan bertekad untuk mengubah nasib hewan-hewan tersebut.

Kami memerangi kekejaman di mana pun kami menemukannya — apakah Anda bersedia bergabung dengan kami? Klik untuk berdonasi Diselamatkan dari kekejaman Kelompok monyet ini diselamatkan pada Oktober 2024 dari sebuah pusat pelatihan terkenal di Cirebon, yang merupakan satu-satunya tempat sejenisnya di Indonesia. Fasilitas seperti ini memaksa monyet-monyet tersebut menjalani metode yang kejam dan seringkali penuh kekerasan agar mereka mau tampil di hadapan penonton.

Saat tidak sedang bekerja, hewan-hewan tersebut biasanya diikat atau dikurung di ruang yang sempit. Jono dan Unyil ditempatkan cukup dekat untuk saling melihat, tetapi tidak dapat berinteraksi. Setelah diselamatkan, kera-kera tersebut menjalani rehabilitasi selama 18 bulan, menerima perawatan, dan belajar kembali perilaku alami yang penting untuk bertahan hidup di alam liar.

Kisah penderitaan di penangkaran: Jono dan Unyil adalah dua dari ribuan kera yang ditangkap dalam perdagangan monyet penari di Indonesia, di mana hewan-hewan muda ditangkap dari alam liar dan dipaksa untuk dieksploitasi demi kepentingan wisatawan. Banyak di antaranya ditangkap saat masih bayi, seringkali setelah induknya dibunuh, sebelum kemudian dipaksa menjalani metode pelatihan yang kejam agar mereka melakukan perilaku yang tidak alami. Di luar pertunjukan, mereka sering dirantai atau dikurung di ruang sempit, dengan sedikit interaksi sosial atau rangsangan.

Jono, yang kini berusia tujuh tahun, menghabiskan bertahun-tahun melakukan trik-trik yang menuntut fisik seperti berjalan di atas panggung tinggi dan mengendarai sepeda. Seperti banyak monyet yang digunakan dalam perdagangan ini, giginya telah dipotong untuk mencegah gigitan, yang menyebabkan rasa sakit parah dan infeksi jangka panjang. Masa kecil Unyl juga mengikuti jalan yang serupa.

Dipisahkan dari ibunya saat masih bayi, ia dipaksa menjalani pelatihan dan dikurung selama lebih dari setahun. Saat diselamatkan, berat badannya kurang, ia takut pada manusia, dan tidak mampu berinteraksi dengan monyet lain. Pengalaman mereka mencerminkan realitas yang lebih luas dalam perdagangan ini, di mana penahanan berkepanjangan, pola makan yang buruk, dan kurangnya stimulasi.

Praktik tersebut dapat menyebabkan kerugian baik secara fisik maupun psikologis. Pariwisata tetap menjadi masalah. Meskipun penutupan pusat pelatihan di Cirebon menandai kemajuan, eksploitasi kera di Indonesia belum sepenuhnya diberantas.

Jono dan Unyil akhirnya dapat menjalani hidup mereka di tempat yang seharusnya, di alam liar, bersama keluarga baru mereka. Mitra kami, Jakarta Aid Network (JAAN), dan pihak berwenang setempat telah membuat kemajuan besar dalam memberantas perdagangan monyet penari di sebagian besar wilayah Indonesia selama 15 tahun terakhir. Sayangnya, kera masih terus dieksploitasi secara luas untuk keperluan pariwisata.

Kami menantikan hari di mana kami dapat merayakan larangan nasional terhadap monyet penari.