Ekonomi Indonesia Diprediksi Tetap Stabil Selama 3 Bulan, Kata Luhut kepada Prabowo

Ekonomi Indonesia Diprediksi Tetap Stabil Selama 3 Bulan, Kata Luhut kepada Prabowo

Ekonomi Indonesia Diprediksi Tetap Stabil Selama 3 Bulan, Kata Luhut kepada Prabowo

Liga335 – TEMPO.CO, Jakarta – Ketua Dewan Ekonomi Nasional (DEN) Luhut Binsar Pandjaitan telah melaporkan kepada Presiden Prabowo Subianto bahwa perekonomian Indonesia diproyeksikan tetap stabil selama tiga bulan ke depan, berdasarkan simulasi ekonomi terbaru.
“Berdasarkan simulasi komprehensif kami, prospek ekonomi untuk tiga bulan ke depan tetap sangat aman dan terjaga dengan baik.

Fundamental ekonomi kami kuat,” kata Luhut dalam pernyataan tertulis pada Rabu.
Namun, sejalan dengan arahan presiden, pemerintah telah menyiapkan berbagai skenario kebijakan antisipatif untuk memitigasi risiko jika ketegangan geopolitik berlanjut lebih lama dari yang diperkirakan.
Salah satu fokus utama adalah menangani potensi lonjakan harga energi, terutama kesenjangan yang semakin melebar antara harga minyak mentah global dan harga bahan bakar dalam negeri.

DEN juga menekankan pentingnya menjaga rantai pasokan untuk komoditas strategis seperti belerang, yang sangat penting bagi program hilirisasi nikel Indonesia dan pengembangan Pengembangan ekosistem baterai kendaraan listrik (EV).
Mengenai ketahanan fiskal, pemerintah menyatakan bahwa anggaran negara akan tetap berada dalam kisaran yang sehat dan terkendali. Defisit fiskal diperkirakan akan dijaga di bawah 3 persen dari produk domestik bruto (PDB), didukung oleh efisiensi pengeluaran yang terarah dan optimalisasi pendapatan dari komoditas ekspor utama seperti batu bara dan minyak sawit.

“Masyarakat dan kalangan bisnis tidak perlu khawatir. Anggaran negara tetap terkendali dengan baik. Defisit akan dijaga di bawah 3 persen melalui pengeluaran yang bijaksana dan dengan memaksimalkan keuntungan dari harga komoditas ekspor yang kuat,” katanya.

Untuk mempertahankan pertumbuhan di sektor riil, pemerintah berencana mempercepat deregulasi sebagai bentuk stimulus non-fiskal.
Luhut menekankan bahwa menghilangkan hambatan struktural tetap menjadi prioritas, terutama untuk menyederhanakan proses perizinan, meningkatkan efisiensi, dan memberikan kepastian hukum yang lebih besar bagi bisnis di tengah ketidakpastian global.
Dia menambahkan bahwa situasi geopolitik saat ini Hal ini seharusnya dipandang tidak hanya sebagai tantangan, tetapi juga sebagai peluang strategis.

Pemerintah sedang berupaya mempercepat transformasi digital dalam tata kelola pemerintahan (GovTech) dan memperkuat rencana pengembangan Indonesia Financial Center guna memanfaatkan potensi pergeseran arus modal global.
“Kami tidak hanya berbicara tentang ketahanan, tetapi juga tentang bagaimana memanfaatkan peluang dari situasi ini. Mempercepat GovTech dan mengembangkan Indonesia Financial Center merupakan strategi kunci untuk memanfaatkan pergeseran arus modal global,” kata Luhut.