Indonesia mendiversifikasi sumber energi untuk mengurangi ketergantungan pada Timur Tengah

Indonesia mendiversifikasi sumber energi untuk mengurangi ketergantungan pada Timur Tengah

Indonesia mendiversifikasi sumber energi untuk mengurangi ketergantungan pada Timur Tengah

Liga335 daftar – Indonesia mendiversifikasi sumber energi untuk mengurangi ketergantungan pada Timur Tengah
Di tengah ketegangan di Timur Tengah, pemerintah telah berupaya mencari sumber pasokan alternatif untuk menggantikan pasokan dari kawasan tersebut, dan kami telah berhasil mendapatkannya,
Berita terkait: Indonesia memberlakukan kebijakan WFH pada hari Jumat untuk meningkatkan efisiensi energi
Berita terkait: Indonesia akan meningkatkan investasi energi terbarukan untuk melindungi perekonomian
Jakarta (ANTARA) – Indonesia sedang mendiversifikasi sumber energi untuk mengamankan pasokan bahan bakar di tengah ketegangan di Timur Tengah, dengan impor dari kawasan tersebut mencapai sekitar 20 persen, kata Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral Bahlil Lahadalia pada hari Selasa. Bahlil mengatakan bahwa kebijakan tersebut bertujuan untuk mengurangi ketergantungan pada satu kawasan sekaligus memperkuat ketahanan energi nasional seiring dengan berlanjutnya risiko geopolitik global. ““Dari total kebutuhan bahan bakar kami, impor dari Timur Tengah mencapai sekitar 20 persen,” katanya dalam konferensi pers virtual yang dipantau dari Jakarta.

Ia menambahkan bahwa pemerintah, di bawah arahan Presiden Prabowo Subianto, , telah mengamankan sumber pasokan alternatif dari negara-negara lain untuk mengantisipasi potensi gangguan.””Di tengah ketegangan di Timur Tengah, pemerintah telah berupaya mencari sumber pasokan alternatif untuk menggantikan pasokan dari kawasan tersebut, dan kami telah mengamankannya,” kata Bahlil. Indonesia juga meningkatkan produksi dalam negeri melalui proyek-proyek kilang, termasuk Rencana Induk Pengembangan Kilang (RDMP) di Balikpapan, dengan kapasitas 5,6 juta kiloliter bensin dan sekitar 4,5 juta kiloliter solar.

Impor energi akan tetap didominasi oleh minyak mentah, sementara bahan bakar seperti RON 90, 92, 95, dan 98 sebagian dipasok secara domestik dan sebagian besar berasal dari Asia Tenggara, katanya.Untuk gas elpiji (LPG), Indonesia telah mulai mengalihkan sumber pasokan ke luar Timur Tengah, termasuk dari Amerika Serikat, sebagai bagian dari strategi diversifikasinya. “Insya Allah, pasokan jelas dan tidak ada masalah,” katanya.

Terpisah, Bahlil mencatat bahwa volume impor energi Indonesia Impor LPG akan tetap tidak berubah berdasarkan perjanjian perdagangan senilai US$15 miliar dengan Amerika Serikat, yang berfokus pada peralihan sumber pasokan daripada peningkatan kuota. Indonesia membutuhkan 8,3 juta ton LPG setiap tahun, dengan produksi dalam negeri sebesar 1,6 juta ton, sehingga sekitar 7 juta ton harus dipenuhi melalui impor, bersama dengan bahan bakar dan minyak mentah.Kesepakatan tersebut mencakup rencana impor LPG senilai sekitar US$3,5 miliar, minyak mentah senilai sekitar US$4,5 miliar, dan produk bahan bakar olahan senilai sekitar US$7 miliar, sesuai dengan permintaan domestik dan harga pasar.