Industri Otomotif Indonesia Bersikap Hati-hati di Tengah Lesunya Pasar Mobil
Liga335 – TEMPO.CO, Jakarta – Industri otomotif bersikap hati-hati dalam menetapkan harga dan menargetkan pasar di tengah kondisi ekonomi yang lesu akibat melemahnya daya beli dan ketidakstabilan ekonomi global. “Kondisi pasar masih lesu, daya beli menurun, sehingga kita perlu lebih memperhatikan perilaku konsumen, dan mengapa mereka menunda pembelian.
Hal itu perlu dieksplorasi,” kata Kepala Pengembangan Jaringan Dealer Jaecoo Indonesia, Setia Hariadi, di Yogyakarta pada Jumat, 17 Oktober 2025. Asosiasi Industri Sepeda Motor Indonesia mencatat bahwa penjualan langsung ke konsumen dari Januari hingga Juni 2025 hanya mencapai 390.467 unit, turun 9,7 persen dibandingkan periode yang sama pada 2024.
Sementara itu, penjualan grosir, atau penjualan dari distributor ke dealer, turun 8,6 persen menjadi 374.740 unit, dibandingkan dengan 410.020 unit sebelumnya.
Setia mengungkapkan bahwa produsen juga mempertimbangkan situasi pasar dan pesaing saat menentukan harga, guna memastikan nilai yang kompetitif bagi produk mereka. Terutama jika harga produk tersebut di atas Rp500 juta atau tidak termasuk dalam kategori Low Cost Green Car (LCGC). Dalam situasi ekonomi yang lesu ini, konsumen akan mempertimbangkan lebih matang biaya yang harus mereka tanggung serta manfaat atau keunggulan produk yang mereka dapatkan.
“Konsumen saat ini ingin tahu dengan pasti, apa keunggulan produk tersebut dibandingkan dengan pesaing,” katanya. Menurut Setia, saat memutuskan untuk memperluas jangkauan pasar, produsen juga harus memperhatikan wilayah-wilayah utama yang memiliki penjualan produk lebih tinggi. Dalam hal ini, wilayah Jabodetabek dan Jawa tetap menjadi target utama untuk membuka dealer baru guna mencapai target penjualan.
“Target kami tahun ini adalah memiliki 30 dealer yang beroperasi, namun saat ini baru 10 yang beroperasi. Belum ada dealer di beberapa pulau di luar Jawa,” kata Setia, yang menargetkan penjualan 500 unit tahun ini. Menurutnya, industri otomotif harus menjangkau lebih banyak pelanggan yang masuk dalam targetnya untuk mengatasi pasar yang lesu.
Misalnya Misalnya, dengan menggelar pameran di mal untuk menarik pembeli produk dengan harga di atas Rp500 juta. “Kita hanya perlu mencari tempat-tempat di mana mereka biasanya berkumpul dan mengetahui apa yang mereka butuhkan. Perkuat ekspansi pemasaran digital, tetapi jangan abaikan pameran di ruang publik seperti mal,” ujarnya.
Sementara itu, Irawan Nurisman, selaku Direktur PT Sumber Baru Wahana Motor di Yogyakarta, kota wisata, didukung oleh beberapa pusat perbelanjaan untuk menjadi tempat pameran saat produk baru diluncurkan. “Konsumen yang menjadi target pasar sering menghabiskan waktu di pusat perbelanjaan selama musim liburan, jadi itulah yang kami tuju dengan meningkatkan pameran pada akhir pekan,” katanya. Selain pusat perbelanjaan, konsumen juga biasanya ditawari untuk melihat produk lengkap secara langsung di dealer.

