OJK menyempurnakan kode etik kecerdasan buatan untuk memitigasi risiko teknologi keuangan

OJK menyempurnakan kode etik kecerdasan buatan untuk memitigasi risiko teknologi keuangan

OJK menyempurnakan kode etik kecerdasan buatan untuk memitigasi risiko teknologi keuangan

Liga335 daftar – OJK menyempurnakan kode etik AI untuk memitigasi risiko teknologi keuangan
Berita terkait: OJK imbau korban penipuan untuk melapor dalam waktu 10 menit guna memulihkan dana
Denpasar (ANTARA) – Otoritas Jasa Keuangan (OJK) telah memperbarui pedoman kode etik kecerdasan buatan (AI) untuk memitigasi risiko di industri teknologi keuangan. ““Kami melihat bahwa perkembangan terkini memerlukan respons cepat untuk menyesuaikan dan menyempurnakan pedoman yang ada,” kata pejabat OJK, Hasan Fawzi, dalam forum Organisasi untuk Kerja Sama dan Pembangunan Ekonomi (OECD) Asia tentang Keuangan Digital 2025 di Denpasar, Bali, pada Senin.Ia menjelaskan bahwa pedoman baru tersebut mencakup beberapa aspek, termasuk adopsi dan antisipasi perkembangan teknologi AI terbaru, khususnya AI generatif, yang memerlukan penyesuaian.

Selain itu, pedoman tersebut memperkuat prinsip-prinsip dasar kode etik AI, terutama dalam hal perlindungan konsumen, keandalan model dan data, inklusi keuangan, perlindungan data, serta ketahanan siber Pedoman baru tersebut diluncurkan di sela-sela forum bersama OECD di Bali, sebagai pembaruan atas pedoman sebelumnya yang diterbitkan pada akhir 2023. “OECD sepenuhnya mendukung perubahan (pada pedoman) tersebut melalui proses peninjauan dan masukan,” katanya.Dalam pedoman terbaru, OJK menambahkan prinsip dasar yang harus dipatuhi oleh perusahaan teknologi keuangan: keadilan.

Ia mengatakan pedoman baru ini melengkapi enam prinsip dasar: berdasarkan Pancasila, bermanfaat, adil dan jujur, akuntabel, transparan dan dapat dipertanggungjawabkan, serta ketahanan dan keamanan.Penggunaan AI di sektor keuangan meningkatkan efisiensi proses bisnis dan kecepatan transaksi. AI generatif, misalnya, tidak hanya meningkatkan efisiensi tetapi juga dapat mendeteksi penipuan lebih cepat, meningkatkan kualitas layanan pelanggan, dan mempersonalisasi produk.

Namun, penggunaan AI juga menimbulkan risiko baru, termasuk risiko dari AI generatif yang perlu diatasi, seperti halusinasi, kebocoran data pribadi, atau informasi sensitif. informasi, serta bias algoritmik yang dapat memperburuk penilaian underwriting.