UGM Menduduki Peringkat Pertama di Indonesia untuk Studi Pembangunan dan Ilmu Politik, Masuk dalam 100 dan 200 Besar Dunia
Liga335 daftar – Fakultas Ilmu Sosial dan Politik (Fisipol UGM) kembali meraih hasil gemilang dalam QS World University Rankings (WUR) by Subject 2026.
Dua bidang akademik di bawah naungan Fisipol berhasil masuk dalam 100 dan 200 besar dunia. Bidang Studi Pembangunan mencatat lonjakan signifikan, menempati peringkat 50–100 besar dunia.
Sementara itu, bidang Studi Politik dan Hubungan Internasional secara konsisten tetap berada di peringkat 150–200 dunia.
Dalam bidang Studi Pembangunan, UGM menempati peringkat pertama di Indonesia, diikuti oleh Universitas Indonesia (UI) yang menempati peringkat kedua secara nasional dan berada di rentang 101–150 dunia. Sementara itu, dalam bidang Studi Politik dan Hubungan Internasional, UGM juga menempati peringkat pertama di Indonesia, diikuti oleh UI, Universitas Airlangga (Unair), dan Universitas Hasanuddin.
Wakil Dekan Bidang Akademik dan Kemahasiswaan Fisipol UGM, Prof. Poppy Sulistyaning Winanti, menyatakan bahwa pencapaian ini bukanlah hasil dari satu program studi saja, melainkan hasil dari kolaborasi interdisipliner. “Klasifikasi QS berdasarkan Bidang Studi tidak sepenuhnya selaras dengan struktur program studi di UGM.
Misalnya, Studi Pembangunan mencakup berbagai program dengan konsentrasi yang serupa. Hal ini menunjukkan bahwa pendekatan interdisipliner dan multidisipliner di UGM telah relatif berhasil,” ujarnya pada Selasa (7 April).
Profesor Poppy menekankan bahwa pola pikir kolaboratif harus terus diperkuat untuk meningkatkan kontribusi akademik dan reputasi global.
Ia menjelaskan bahwa beberapa inisiatif strategis telah secara konsisten dilakukan untuk meningkatkan pengakuan internasional sekaligus memberikan manfaat langsung bagi komunitas akademik, seperti partisipasi aktif Fisipol UGM dalam Global Humanities Alliance (GHA).
“Fisipol merupakan bagian dari aliansi humaniora global yang melibatkan delapan universitas dari berbagai negara. Kami telah mengembangkan berbagai kolaborasi, termasuk menyelenggarakan seminar, mengajukan proposal hibah penelitian, dan lainnya,” jelasnya.
Selain itu, Profesor Poppy menyebutkan bahwa melalui aliansi GHA, Fisipol UGM juga mengembangkan penelitian yang selaras dengan tema-tema penelitian utama fakultas.
“Beberapa isu strategis yang menjadi fokus studi bersama dengan mitra internasional meliputi keberlanjutan, respons terhadap perubahan iklim, demokrasi, humaniora publik, dan dekolonisasi pengetahuan,” tambahnya.
Sementara itu, untuk memperkuat ekosistem akademik internalnya, Fisipol UGM secara rutin mengundang para pakar terkemuka dunia sebagai dosen tamu.
Inisiatif ini bertujuan untuk memperluas jaringan penelitian sekaligus menampilkan keunggulan akademik fakultas.
“Kehadiran visiting fellows merupakan instrumen penting untuk membangun reputasi akademik kami. Selain itu, kami terus mengembangkan berbagai program mata kuliah bersama dengan mengundang para ahli sebagai dosen tamu,” jelasnya.
Lebih lanjut, dalam mengamati hasil di setiap bidang, Profesor Winanti mengakui bahwa tantangan terbesar terletak pada peningkatan indeks H dan produktivitas publikasi internasional.
Untuk mengatasi Dalam hal ini, ia menjelaskan bahwa fakultas telah menerapkan skema hibah penelitian berbasis kompetisi selama lebih dari 10 tahun yang mewajibkan kolaborasi dengan peneliti atau dosen internasional yang terkemuka.
“Hasil dari upaya penelitian kolaboratif ini akan berkontribusi pada peningkatan indeks H para dosen Fisipol UGM,” tambahnya.
Selain itu, untuk mengikuti perkembangan zaman, Fisipol UGM terus mempercepat transformasi digital, terutama dalam menghadirkan pakar internasional ke dalam ruang kelas. Profesor Poppy menjelaskan bahwa sejak pandemi, Fisipol UGM telah mengembangkan Sistem Manajemen Pembelajaran (LMS) sendiri yang bernama Focus.
“Ketika dosen internasional mengajar, kami juga mengelolanya secara daring.
Sesi-sesi ini didigitalisasi melalui Focus baik untuk kebutuhan pembelajaran jangka pendek maupun jangka panjang,” pungkasnya.
Selain itu, seiring dengan terus meningkatnya reputasi internasionalnya, Fisipol UGM menekankan bahwa pencapaian tersebut tidak boleh membuat universitas mengabaikan peran dasarnya . Profesor Poppy menekankan bahwa upaya untuk meningkatkan peringkat global dan memberikan kontribusi nyata bagi masyarakat harus berjalan beriringan.
“Reputasi global memang penting. Namun, hal itu tidak berarti kita mengabaikan peran pendidikan tinggi dalam mengatasi tantangan nyata yang dihadapi masyarakat. Kita semua harus saling mendukung sesuai dengan nilai-nilai tridharma pendidikan tinggi,” pungkasnya.

