Jurusan Biologi UGM Menduduki Peringkat Pertama di Indonesia, dan Mendapat Peringkat 501–550 di Tingkat Dunia
Liga335 – Program Studi Biologi di Universitas Gadjah Mada (Biologi UGM) kembali mempertahankan posisinya dalam QS World University Rankings (WUR) by Subject 2026. Program ini mencatat peningkatan dengan menempati peringkat global 501–550, naik dari peringkat 551–600 pada tahun 2025. Secara nasional, pencapaian ini menempatkan Biologi UGM sebagai program peringkat teratas di Indonesia, diikuti oleh Universitas Indonesia, Universitas Airlangga (551-600), dan IPB (601-650).
Dekan Fakultas Biologi UGM, Profesor Budi Setiadi Daryono, menyatakan bahwa pencapaian ini tidak terlepas dari komitmen fakultas dalam mengimplementasikan tri dharma perguruan tinggi, yang mencakup visi dan misi, target kinerja, serta indikator kinerja utama, semuanya berlandaskan Pancasila dan keanekaragaman hayati tropis Indonesia yang kaya.
Profesor Daryono juga mencatat bahwa peringkat global harus dilihat secara proporsional. Dengan ribuan program biologi serupa di seluruh dunia, posisi ini menunjukkan bahwa Biologi UGM merupakan bagian dari kelompok yang kuat dan kompetitif.
Selain itu, dalam rentang peringkat 501–550, UGM berada sejajar dengan universitas-universitas dari negara-negara maju seperti Jepang, Amerika Serikat, Austria, dan Denmark.
“Kami tentu bangga dan bersyukur, meskipun sekali lagi, ini hanyalah bonus. Peringkat ini menjadi motivasi untuk mengejar tujuan utama kami, yaitu bekerja dengan cara yang benar,” ujarnya pada Jumat (10/4).
Dalam upaya mempertahankan dan meningkatkan reputasi akademiknya, Fakultas Biologi UGM terus memperkuat ekosistem akademiknya secara berkelanjutan. Profesor Daryono menjelaskan bahwa ada tiga elemen kunci yang diperkuat dalam siklus akademik. Elemen-elemen ini diikat oleh komunikasi yang efektif, yang menumbuhkan kolaborasi dan pada akhirnya membangun kepercayaan.
Berbagai program pendukung, termasuk pendanaan penelitian, pengabdian masyarakat, dan kolaborasi antara dosen dan mahasiswa, terus dikembangkan untuk meningkatkan produktivitas dan kualitas hasil akademik.
“Ketika kepercayaan terbentuk, hal itu mengarah pada kolaborasi, dan semuanya saling bersinergi “melalui komunikasi, kolaborasi, dan sinergi,” ujarnya.
Selain itu, Profesor Daryono menekankan pentingnya mengevaluasi produktivitas akademik secara rasional, bukan hanya berdasarkan jumlah total publikasi.
Dengan sekitar 60–70 anggota fakultas, Fakultas Biologi UGM menghasilkan ratusan publikasi internasional setiap tahun. Secara proporsional, produktivitas per anggota fakultas dianggap relatif tinggi.
“Ada 68 dosen di Fakultas Biologi UGM, dan dengan 263 publikasi, setiap orang menghasilkan hampir tiga karya per tahun.
Evaluasi tidak boleh hanya didasarkan pada angka total, tetapi juga mempertimbangkan rasio terhadap sumber daya manusia,” jelasnya.
Yang tak kalah penting, tegasnya, adalah pemeliharaan integritas yang konsisten dalam setiap proses akademik. Prestasi harus diperoleh melalui proses yang tepat, tanpa adanya bentuk pelanggaran apa pun.
Ia menekankan bahwa di lingkungan UGM, khususnya di Fakultas Biologi, praktik-praktik tidak jujur yang bertujuan meningkatkan peringkat adalah dihindari sepenuhnya.
“Nilai-nilai integritas ini diterapkan secara konsisten dalam perkuliahan, ujian, dan praktikum laboratorium,” ujarnya.
Selain itu, Profesor Daryono menekankan bahwa pengakuan internasional ini erat kaitannya dengan prinsip perbaikan berkelanjutan.
Ia mengibaratkan proses evaluasi di dunia akademis sebagai mekanisme “pemulihan” pada organisme hidup. Dalam biologi, pemulihan tidak selalu terjadi secara instan, melainkan melalui tahapan adaptasi, termasuk regenerasi.
“Seperti tanaman yang menggugurkan daun sebelum menumbuhkannya kembali, evaluasi merupakan bagian dari proses menuju perbaikan yang lebih baik,” jelasnya.
Menurutnya, Fakultas Biologi juga memikul tanggung jawab besar dalam menjaga keanekaragaman hayati. Indonesia memegang posisi strategis dalam studi biologi global, menempati peringkat kedua di dunia untuk keanekaragaman hayati setelah Brasil.
Namun, ia mencatat bahwa Indonesia memiliki keunggulan tersendiri, karena dua pertiga wilayahnya terdiri dari lautan, yang berarti keanekaragaman hayati Indonesia melampaui te ekosistem darat hingga lingkungan laut.
“Prestasi ini seharusnya menjadi motivasi untuk terus menghasilkan karya yang bermakna dan memberikan dampak nyata bagi masyarakat, karena universitas merupakan sumber pengetahuan. Prestasi hanyalah bonus, namun tujuan utama kami adalah menghasilkan karya yang berdampak dan berkelanjutan, bekerja, berkreasi, dan berkontribusi,” pungkasnya.

