Krisis Selat Hormuz merupakan ujian ekonomi bagi Indonesia
Liga335 daftar – Dengarkan 0:00 / 0:00 − 1,0x + Default Siap
Dengan Selat Hormuz yang kini secara efektif terganggu, dunia sedang memasuki fase baru ketidakamanan energi. Bagi Indonesia, konsekuensinya bukanlah sekadar hipotesis. Konsekuensi tersebut sudah mulai terasa—melalui kenaikan harga bahan bakar, melemahnya nilai tukar mata uang, dan meningkatnya tekanan pada sistem fiskal yang rapuh.
Sekitar seperlima pasokan minyak global melewati Selat Hormuz. Setiap gangguan yang berkepanjangan akan langsung menimbulkan guncangan di pasar minyak mentah, dan guncangan tersebut kini berdampak langsung pada perekonomian domestik Indonesia. Meskipun reformasi subsidi telah berlangsung bertahun-tahun, negara ini secara struktural tetap rentan terhadap volatilitas harga minyak global.
Seiring kenaikan harga, pemerintah menghadapi tekanan yang semakin besar untuk menyesuaikan harga bahan bakar, gas elpiji bersubsidi—terutama tabung 3 kilogram yang banyak digunakan—dan kemungkinan tarif listrik. Akibatnya, biaya hidup meningkat pesat, dengan rumah tangga berpenghasilan menengah dan rendah menjadi pihak yang paling terdampak.
Ini bukan sekadar masalah energi s Kisah ini adalah kisah inflasi—dan kisah yang berbahaya.
Indonesia saat ini sekaligus menghadapi risiko kekeringan berkepanjangan yang terkait dengan potensi fenomena El Niño super. Produksi pertanian terancam, sementara harga pupuk melonjak akibat gangguan pada rantai pasokan petrokimia dan melonjaknya biaya logistik.
Perpaduan antara inflasi energi dan inflasi pangan merupakan kombinasi yang tidak stabil, yang secara historis telah memicu ketidakstabilan sosial dan ekonomi di berbagai pasar negara berkembang.
Tekanan fiskal pun semakin meningkat secara paralel. Sistem subsidi dan kompensasi energi Indonesia tetap sangat sensitif terhadap pergerakan harga global dan fluktuasi nilai tukar. Seiring kenaikan harga minyak, biaya untuk menjaga stabilitas harga di dalam negeri pun ikut meningkat.
Melemahnya nilai tukar rupiah memperparah masalah ini, meningkatkan biaya bahan bakar impor dan membengkakkan kewajiban subsidi. Bahkan depresiasi mata uang yang moderat pun dapat menambah pengeluaran pemerintah hingga miliaran dolar, sehingga dengan cepat mempersempit ruang fiskal.
BACA: Media Ibrani: Iran menetapkan lima syarat untuk mengakhiri perang dengan AS dan Israel
Bahaya sesungguhnya terletak pada interaksi antara guncangan-guncangan ini.
Kenaikan harga minyak cenderung bertepatan dengan arus keluar modal dari pasar negara berkembang, yang memberikan tekanan lebih lanjut terhadap nilai tukar mata uang. Dalam skenario seperti itu, Indonesia menghadapi beban ganda: biaya impor energi yang lebih tinggi dan respons fiskal yang lebih mahal. Perkiraan berbasis skenario menunjukkan bahwa dampak gabungan tersebut dapat mencapai puluhan miliar dolar, memaksa dilema sulit antara mempertahankan subsidi, melindungi belanja sosial, dan menjaga kredibilitas fiskal.
Sektor eksternal sudah merasakan tekanan tersebut. Sektor-sektor industri yang bergantung pada bahan baku impor—mulai dari manufaktur dan produksi otomotif hingga pengolahan makanan dan petrokimia—kini menghadapi kenaikan biaya seiring melemahnya rupiah dan kenaikan harga global. Tekanan-tekanan ini pasti akan diteruskan kepada konsumen, memperkuat tren inflasi, dan mengikis daya beli.
Tentu saja, Indonesia mungkin mendapat manfaat dari Akibat kenaikan harga komoditas global. Ekspor batu bara, minyak sawit, dan nikel diperkirakan akan menghasilkan pendapatan tambahan. Namun, keuntungan tak terduga semacam itu tidak merata dan lambat sampai ke rumah tangga.
Keuntungan tersebut kemungkinan besar tidak akan mampu mengimbangi kenaikan biaya hidup yang meluas dan sedang berlangsung saat ini.
Hal ini menempatkan beban sepenuhnya pada kebijakan. Tantangannya bukan sekadar merespons, melainkan merespons dengan bijak.
Memperluas defisit fiskal untuk mengakomodasi kenaikan subsidi mungkin memberikan kelegaan jangka pendek, tetapi berisiko menjebak Indonesia dalam siklus utang yang semakin tinggi dan pembayaran bunga yang terus meningkat di tengah kondisi keuangan global yang semakin ketat. Mengalihkan pengeluaran dari program-program populis yang berdampak rendah ke intervensi yang lebih terarah akan jauh lebih efektif.
BACA: Indonesia menangguhkan keikutsertaannya dalam Dewan Perdamaian menyusul serangan terhadap Iran
Salah satu intervensi tersebut adalah transportasi umum.
Memberikan subsidi pada angkutan massal dapat memberikan kelegaan langsung bagi rumah tangga perkotaan sekaligus mengurangi konsumsi bahan bakar—sehingga mengatasi inflasi dan permintaan energi secara bersamaan. Sebaliknya, langkah-langkah yang bersifat paksa seperti kewajiban bekerja dari rumah kemungkinan besar tidak akan mendapat respons positif di sektor swasta tanpa insentif yang mahal.
Di saat yang sama, krisis ini menyoroti kebutuhan struktural yang lebih mendasar: ketahanan energi.
Ketergantungan Indonesia yang terus-menerus pada bahan bakar impor membuatnya rentan terhadap guncangan eksternal semacam ini. Mempercepat investasi di bidang energi terbarukan—terutama penerapan tenaga surya skala besar di wilayah-wilayah yang masih bergantung pada generator diesel—akan mengurangi kerentanan tersebut seiring berjalannya waktu.
Upaya serius untuk memperluas kapasitas tenaga surya, yang berpotensi mencapai 100 gigawatt, bukan lagi sekadar ambisi lingkungan, melainkan kebutuhan ekonomi.
Kepemimpinan akan menentukan apakah Indonesia mampu melewati krisis ini atau justru semakin rentan. Presiden Prabowo Subianto menghadapi ujian kritis. Ini bukanlah saat yang tepat untuk terus meneruskan prioritas masa kampanye yang hanya memberikan dukungan terbatas terhadap daya beli rumah tangga.
Fokus harus bergeser secara tegas ke arah pengendalian inflasi inflasi, melindungi kelompok yang paling rentan, dan menjaga disiplin fiskal.
Bahkan jika ketegangan di Timur Tengah mereda, dampak ekonomi lanjutan dari krisis ini akan tetap terasa. Guncangan energi cenderung meresap ke dalam ekspektasi inflasi, keseimbangan fiskal, dan stabilitas politik.
Bagi Indonesia, pelajarannya sangat jelas: ketahanan tidak bisa dibangun secara mendadak di tengah krisis. Ketahanan tersebut harus dibangun melalui kebijakan yang disiplin, investasi strategis, dan kesediaan untuk menghadapi pilihan-pilihan sulit sebelum pilihan-pilihan tersebut menjadi tak terelakkan.
OPINI: Prabowo mengatakan tidak ada $1 miliar—tetapi para menterinya memberikan sinyal sebaliknya di Dewan Perdamaian
Pandangan yang diungkapkan dalam artikel ini merupakan pandangan penulis dan tidak selalu mencerminkan kebijakan redaksi .

