Ketegangan antara kepolisian dan militer di Indonesia menjadi sorotan setelah penggerebekan di Jakarta

Ketegangan antara kepolisian dan militer di Indonesia menjadi sorotan setelah penggerebekan di Jakarta

Ketegangan antara kepolisian dan militer di Indonesia menjadi sorotan setelah penggerebekan di Jakarta

Liga335 – JAKARTA (Bloomberg): Pejabat Indonesia berusaha meredam tanda-tanda adanya ketegangan di antara lembaga-lembaga keamanan setelah penggerebekan yang dilakukan polisi di Jakarta mengungkap beberapa kasus dugaan korupsi ke publik dan menyeret seorang jaksa senior ke dalam kontroversi yang semakin meluas. Polisi pekan ini menyita batangan emas, uang tunai, dan mata uang asing senilai puluhan juta dolar AS dalam serangkaian penggerebekan di ibu kota dan sekitarnya, dengan menyatakan bahwa penggeledahan tersebut terkait dengan setidaknya tiga penyelidikan korupsi dan pencucian uang, termasuk dugaan korupsi pasokan batu bara yang terkait dengan pemadaman listrik baru-baru ini. Di Jakarta Selatan, penyidik menyita rupiah dan mata uang asing senilai lebih dari $3 juta dari sebuah brankas tersembunyi setinggi dua meter di sebuah restoran dan dari tempat penukaran uang yang berdekatan, demikian dilaporkan kantor berita negara Antara.

Di sebuah rumah di selatan Jakarta milik Wakil Jaksa Agung Bidang Tindak Pidana Khusus Febrie Adriansyah, polisi mengatakan penyidik menemukan 74 kilogram batangan emas beserta uang tunai dan mata uang asing di dalam tujuh koper disimpan di dalam brankas, dengan total nilai hasil rampasan sekitar $26,3 juta. Yang semakin menambah misteri, personel militer bersenjata kemudian dikerahkan ke kediaman Febrie di Jakarta. Pihak militer menyatakan pengerahan tersebut dilakukan atas permintaan Kejaksaan Agung dan mengacu pada aturan mengenai perlindungan bagi jaksa.

Febrie adalah salah satu jaksa antikorupsi paling terkemuka di Indonesia, yang memimpin unit Kejaksaan Agung yang menangani kasus-kasus korupsi besar, termasuk penyelidikan yang melibatkan perusahaan tambang milik negara Timah, Pertamina, Garuda Indonesia, mantan Menteri Pendidikan Nadiem Makarim, serta program makan gratis Presiden Prabowo Subianto. Polisi menggambarkan penggeledahan tersebut sebagai upaya pengumpulan bukti dalam penyelidikan korupsi dan pencucian uang yang mencakup tiga bidang kasus: dugaan penyimpangan dalam pengadaan dan pasokan batu bara ke pembangkit listrik, dugaan pelanggaran dalam penanganan masalah hukum yang melibatkan perusahaan asuransi milik negara Asabri dan Jiwasraya, serta kasus terpisah yang terkait dengan penyelesaian utang yang melibatkan perusahaan-perusahaan yang terkait dengan Krakatau Steel. Seorang juru bicara militer mengatakan pada Kamis malam bahwa “pengaturan keamanan tersebut tidak memengaruhi proses penegakan hukum apa pun, dan kami ingin meyakinkan masyarakat bahwa tidak ada konflik dengan lembaga mana pun.

” “TNI menegaskan bahwa tidak ada campur tangan dalam proses hukum dan sepenuhnya mendukung semua tindakan yang diambil oleh aparat penegak hukum,” tambah juru bicara tersebut. Pada hari Jumat, Febrie mengakui bahwa ia adalah pemilik rumah tempat polisi menemukan batangan emas dan uang tunai tersebut, namun ia membantah adanya keterkaitan dengan aset yang disita. Ia mengatakan bahwa Kejaksaan Agung menghormati proses penyidikan dan sedang menunggu hasil penyelidikan polisi.

Ia mendesak masyarakat untuk tidak menarik kesimpulan yang mengaitkan seseorang atau lembaga mana pun dengan dugaan tindak pidana hanya berdasarkan informasi yang beredar di media sosial atau media berita, sambil menambahkan bahwa “proses hukum harus terus menghormati asas praduga tak bersalah.” Prabowo tampaknya turut berkomentar secara tidak langsung pada hari Jumat, menyerukan introspeksi di antara para pejabat, tentara, polisi, dan jaksa saat meresmikan sebuah bendungan di Pulau Lombok. “Mari kita semua melakukan introspeksi—para pejabat, militer, dan polisi,” kata presiden.

“Kalian adalah milik rakyat. Bintang-bintang kalian berasal dari rakyat, sepatu kalian berasal dari rakyat, topi kalian berasal dari rakyat. Jangan pernah lupakan itu.

” “Hal yang sama berlaku bagi Kejaksaan Agung,” tambahnya. “Kalian juga milik rakyat.” Amnesty International Indonesia memperingatkan bahwa pengerahan pasukan tersebut dapat mengikis supremasi sipil dan kredibilitas lembaga penegak hukum, serta menyerukan jaminan bahwa para penyidik tidak akan menghadapi hambatan atau intimidasi.

Nicky Fahrizal, seorang peneliti di Center for Strategic and International Studies yang berbasis di Jakarta, mengatakan bahwa kebuntuan ini mencerminkan keruntuhan kelembagaan yang lebih luas dan berisiko mempercepat “militerisasi yang merayap” dengan melibatkan militer lebih dalam ke dalam penegakan hukum sipil. “Jika eskalasi ini dibiarkan berlanjut, fondasi Indonesia “Penegakan hukum di Sia akan melemah, yang akan memicu hilangnya kepercayaan masyarakat dan investor secara lebih luas,” katanya. –Dengan bantuan dari Grace Sihombing.

— ©2026 Bloomberg L.P.